SMP Quranic Science Boarding School

Jl. Radinal Muchtar, Jagabaya Desa Rajadatu Kec. Cineam Kab. Tasikmalaya Jawa Barat 46198

"TERAKREDITASI A"

Hafizh, Cerdas & Mampu Memimpin

Memaknai Pembelajaran Quranic Science

Senin, 30 Nopember 2020 ~ Oleh Admin QSBS ~ Dilihat 111 Kali

Memaknai Pembelajaran Quranic Science
Bagian Kedua
Oleh : Runjai Wangsa Laksana
Litbang Yayasan Al Kautsar 561 Tasikmalaya



Peran ilmu pengetahuan dan teknologi (ipteks) yang dikerjakan secara individual atau kelompok masyarakat, meskipun memiliki tingkat efektivitas dan efisiensi yang tinggi, hanyalah sebagai terminal jangka pendek dan keadaan ini dipahami sebagai kondisi setimbang. Sebagai terminal jarak menengah dalam pembentukan keunggulan dan ketangguhan dalam bentuk peradaban. Pada akhirnya ujung terminal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah pengakuan serta kepatuhan dalam pengabdian tehadap Tuhan Pemberi Amanah khalifah di muka bumi. Dengan pengertian ini kita yakin bahwa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi “tidak bebas nilai”, artinya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi terkait misi. Misi tunggal yang dibawa ilmu pengetahuan adalah membentuk kepatuhan dalam pengabdian terhadap Pencipta alam ini. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dibangun dengan misi membangun tata nilai yang berbasis aqidah tauhidullah. Maka dapat dinyatakan bahwa agama dan ilmu pengetahuan memiliki hubungan yang sangat erat.
Sebagaimana telah kita pahami bersama bahwa Al Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman bukan hanya terhadap kaum muslim akan tetapi berlaku untuk semua manusia yang diciptakanNya (hudan linnas). Bahwa Al Qur’an sebagai sebagai rujukan/sumber dari ilmu pengetahuan tentu bukanlah sesuatu yang asing utama bagi kaum muslim, walaupun Al Qur’an bukan ensiklopedia sains. Lebih dari itu hampir semua ilmu pengetahuan yang muncul dan berkembang pada saat ini termuat dalam Al Qur’an, walaupun berifat umum tidak terinci. Walau Al Qur’an menyentuh persoalan secara umum, akan tetapi telah memperlihatkan bahwa Al Qur’an memiliki urgensi terhadap ilmu pengetahuan atau sains. Seperti penciptaan langit dan bumi, penciptaan manusia itu sendiri, hewan dan tumbuhan, terjadinya hujan, petir serta silih bergantinya siang dan malam serta banyak ayat lain yang membicarakan fenomena alam secara luas dan bersifat umum.
Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, maka semakin terbuka ilmu-ilmu yang terkadung dalam ayat-ayat Al Qur’an. Bahkan para saintis Barat banyak takjub dengan penemuannya yang ternyata telah dijelaskan dalam Al Qur’an. Diantara mereka kemudian banyak yang masuk Islam. Sehingga seiring dengan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan semakin membuktikan kebenaran akan firman Allah yang terkandung dalam Al Qur’an. Sehingga semakin memperjelas untuk mewujudkan bahwa Al Qur’an menjadi pedoman untuk manusia agar mencapai kebahagian baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Mengintegrasikan sains dan Al Qur’an bukanlah memperlemah dari salah satunya, melainkan menguatkan untuk kedua-duanya. Pasti akan serasi karena berasal dari sumber yang sama, yakni Pencipta dan Pemiliknya yaitu Allah. Selain itu kedua-duanya merupakan tanda kekuasan Allah dan diperuntukkan untuk umat manusia. Sains merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersirat di alam (ayat kauniyyah), sedangkan Al Qur’an merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersurat (ayat kauliyyah). Dalam ayat kauliyah (QS. Ali Imran: 190-191) diperintahkan untuk meneliti ayat kauniyyah. Penelitian ayat kauniyyah secara ilmiah menghasilkan ilmu pengetahuan (sains).
Menghadirkan aspek spiritual keagamaan dalam sains tidak akan mengurangi tingkat keilmiahan sains, melainkan memberikan arahan dan pedoman yang akan lebih memberikan jaminan bahwa sains tersebut akan memberikan kebaikan dan keberkahan bagi umat manusia di dunia dan akhirat. Sebaliknya menghadirkan sains dalam agama akan meningkatkan kualitas keimanan, melalui peningkatan pemahaman agama yang logis.
Berdasarkan penjabaran di atas dapat disimpulkan Quranic Science adalah kajian cara mengungkap keterkaitan ayat kauliayyah dalam Alquran dan sunah dengan ayat kauniyyah dalam pembahasan sains. Quranic Science dikembangkan dengan tujuan, yaitu: menjadikan (1) Alquran dan sunah sebagai pedoman sains, dan (2) Sains sebagai penguat Alquran dan sunah..
Istilah “Quranisasi Ilmu Pengetahuan” yang mengandung makna memahami ayat-ayat Al Qur’an yang terkait dengan realitas atau ilmu pengetahuan dengan mengoptimaliskasikan hakikat filsafat ilmu. Pada pemahaman makna yang lebih ringkas, yaitu mengkaji ayat-ayat Al Qur’an yang terkait ilmu pengetahuan baik ilmu alam atau ilmu sosial. Inilah yang dilakukan SMP dan SMA QSBS Al Kautsar 561 Tasikmalaya dalam pengembangan kurikulum Quranic Science, yakni mencoba menggali ayat-ayat Al Qur’an yang terkiat materi dalam pembelajaran IPA, Matematikan dan IPS. Hal ini yang mendasari dan menganggap penting bahwa Yayasan Al Kautsar 561 terus mengembangkan lebih dalam bagaimana rancangan, penerapan dan sistem evaluasi dalam pengembangan kurikulum terpadu tersebut dan diterapkan baik di SMP QSBS maupun di SMA QSBS Al Kautsar 561 Tasikmalaya.
Refensi:
1. Suparno Satria (2015) “ Muslim Kaffah”
2. Andi Rosadisatra (2007): Metode Tafsir Ayat-ayat Sins dan Sosial”
3. Muhannad Anshar (2017) : “ Integrasi Al Qur’an dan Sains”

www.smaqsbs.sch.id
www.smpqsbs.sch.id

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT