SMP Quranic Science Boarding School

Jl. Radinal Muchtar, Jagabaya Desa Rajadatu Kec. Cineam Kab. Tasikmalaya Jawa Barat 46198

"TERAKREDITASI A"

Hafizh, Cerdas & Mampu Memimpin

ISI CERPEN ANAK QSBS INI MASUK JUARA 3 NASIONAL

Selasa, 19 Januari 2021 ~ Oleh Admin QSBS ~ Dilihat 383 Kali

Sejarah Kelam Indestria

Karya: Fida Izzatunnisa

 

Gedung berwarna biru muda tampak dikerumuni manusia. Mereka menjerit, menangis, memohon kepada Tuhan agar dengan baik hati mengizinkan orang–orang yang mereka sayangi dapat hidup kembali.

Wanita berjas putih mematung di laboratorium lantai 25, menyaksikan layar monitor yang menampilkan bagaimana setiap orang tumbang tak berdaya. Tangannya mengelap keringat di pelipis kananya. Ia merasakan pusing tak tertahankan. Sudah berbulan–bulan ia bekerja keras siang dan malam demi menyelamatkan nyawa ribuan manusia.

Seseorang datang menghampirinya.

“Prof. Azura, virus itu telah menyebar ke seluruh galaksi kita. Ia bermutasi sangat cepat dan bulan ini adalah puncaknya. Kita harus bawa vaksin itu secepatnya.”

Azura terlihat sangat stres, penglihatannya mengabur, kemudian gelap menyambutnya.

            ----------------------------------------------------------------------------------------------

Tujuh bulan sebelumnya.

Pagi hari di planet Indestria. Planet yang sangat maju di bidang teknologi. Kereta berkecepatan tinggi, humanity robot, hologram, dan berbagai teknologi lainnya yang mungkin masih belum banyak digunakan di planet lainnya.

Indestria adalah planet pelopor perkembangan teknologi. Orang–orang di Indestria tidak pernah kehabisan ide untuk menciptakan ataupun memperbaharui teknologi yang sangat bermanfaat bagi manusia.

Seorang wanita muda sedang menikmati sarapannya. Ia seseorang yang cukup berbeda dari kebanyakan orang di Indestria. Meskipun begitu, ia yakin bagaimanapun keadaannya ia pasti akan bermanfaat suatu hari nanti. Setelah sarapan ia bergegas pergi dan memakai jas putih kebaggaannya, ia juga menyematkan name tag bertuliskan Prof. Azura Pramudia Ketua Labaratorium Indestria.

Sesampainya di Laboratorium, ia disambut hangat oleh sahabatnya.

“Pagi Zura, apakah kau masih yakin kita akan berguna? Aku kuliah masuk jurusan itu kan karena mu, aku juga bekerja di Lab ini karena mu. Andai saja aku punya teman selain kamu, pasti aku sudah menjadi ilmuan robot hari ini, atau aku sudah memiliki jabatan tinggi di planet ini.” Kata Nayara mengoceh.

“Sudahlah Naya, lajutkan lagi penelitian mu. Lagian aku juga tidak penah menyuruhmu untuk mengambil jurusan ini.”

“Ah kau ini, selalu saja projek dan projek lagi, memang ada gunanya?”

Azura tidak menggubrisnya. Ia lelah mendengar ocehan Naya yang selalu saja mengeluhkan hal yang sama.

Planet Indestria ini dikenal sebagai pelanet yang sangatlah kurang memerhatikan penelitian akan kesehatan manusia. Di sini hanya ada satu laboratorium utama dan beberapa laboratorium kecil di rumah sakit. Itulah mengapa Azura dianggap aneh. Ia lebih tertarik pada penelitian, mengotak-atik mikroskop dan larutan–larutan zat berwarna warni.

Sore ini Azura menikmati segelas teh hangat. Tiba–tiba dr. Arion dari rumah sakit Indestria menelfonya.

“Zura, apakah kau sudah melihatnya?”

“Apa?”

“Laporan dari laboratorium Planet Cheres. Mereka mengatakan bahwa ada virus yang menyerang planet mereka, virus itu sudah mewabah. Mereka menyebar sangat cepat.”

“Virus apa? Apakah sudah ditemukan jenisnya?”

“Ya, namanya Coronavirus Desease baru ditemukan dan telah menyebar luas. Kemungkinan besar planet kita juga akan menerima dampaknya.”

“Akan segera aku analisis dan peringatkan rakyat kita agar waspada.”

Malam itu, diperingatkan kepada seluruh rakyat untuk waspada. Namun, respon mereka jauh berbeda. Mereka tidak mempercayainya, mereka tetap beraktivitas walau pemerintah sudah melarangnya.

Sepuluh hari kemudian.

Seorang wanita bernama Alieen menderita batuk, sesak nafas, dan demam yang sangat tinggi. Ia dilarikan ke rumah sakit Indestria, diduga seminggu yang lalu ia baru saja melakukan kontak langsung dengan Arabella, temannya dari Planet Cheres. Tak lama dari itu, Arabella dinyatakan positif terkena corona di Planet Cheres.

Alieen kemungkinan besar juga menderita penyakit yang sama. Setelah diisolasi dan dilakukan pengecekan oleh para dokter. Alieen dinyatakan positif terkena corona.

Semakin hari virus corona semakin tak terkendali, memporak porandakan Indestria. Korban semakin berjatuhan, tim medis dan tim analisis yang hanya sedikitpun kewalahan. Meskipun begitu, rakyat tetap saja tidak menghiraukannya. Mereka bebas berkegiatan semau mereka. Pemerintah telah menyerah, tak ada lagi hukum yang tegas untuk menindak rakyat yang melanggar.

      Bulan demi bulan berlanjut dan Indestria semakin terpuruk. Rumah sakit tak bisa lagi menampung pasien. Ekonomi hancur karena teknologi bukan lagi prioritas utama bagi tiap planet. Banyak perusahaan Indestria yang bangkrut. Pemerintah kelabakan mencari dana untuk pembiayaan pasien.

Rakyat yang masih sehat terpaksa mengurung diri di rumahnya. Rakyat harus bisa mengatur persediaan makanan yang ada, karena harga makanan yang dijual pun sangat mahal, ditambah lagi dengan penjarahan di mana-mana. Setiap orang berkata “Indestria telah mati. Indestria tak mungkin bisa bangkit lagi.”

Malam itu awan mendung menyelimuti purnama, menghidupkan suasana sayu di Indestria. Bintang paling terang seakan menjadi penyampai harapan kebangkitan Indestria. Di saat satu pintu tertutup, di saat itu jugalah ada pintu yang terbuka. Indestria pun begitu, harapan datang saat Arion mengirimkannya jurnal vaksin dari sebuah virus purba yang dapat ditemukan di Planet Jerius.

“Kita harus ke sana!” Perintah Azura pada Arion.

“Jarak planet itu sangat jauh, butuh dua hari perjalanan untuk sampai di sana”

“Tak apa, ini satu–satunya harapan kita. Besok pagi kita berangkat.”

Perjalanan itu dilakukan. Setelah dua hari perjalanan, mereka sampai di Planet Jerius. Jerius bukanlah planet yang tangguh dalam teknologi, biasa-biasa saja, namun bisa dilihat, laboratorium di sana sangat maju. Orang–orang berjas putih menjadi dominan di sana. Masyarakat yang ramah dan teratur.

Azura dan Arion menuju ke Laboratorium utama Jerius. Prof Adhitama menyambut mereka.

“Kudengar kalian akan datang untuk membawa virus purba itu. Aku yakin di planet kalian yang indah itu, kalian tak akan bisa melemahkan virus purba ini untuk dijadikan vaksin.”

“Lalu bagaimana rencana mu?” Tanya Arion.

“Menetaplah dahulu di sini, setidaknya tiga hari. Mari kita proses dahulu vaksinnya, dan kalian akan membawa vaksin sebagai obat bukan virus yang bahkan lebih membahayakan.”

Hasil kerja keras mereka tidak sia–sia. Berbagai uji coba telah dilakukan, dan terbukti bahwa vaksin ini sangat efektif untuk melawan virus corona.

“Pulanglah sekarang dan bawa vaksin itu berapapun yang kalian butuhkan. Selamatkan planet kalian dan jadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran, bahwa hal yang sering kalian anggap tidak penting justru adalah hal yang paling dibutuhkan. Begitupun dengan hal yang sering kalian prioritaskan adalah hal yang tak begitu penting dalam hidup kalian.” Kata Prof Adhitama.

     Sore ini adalah akhir dari penyelamatan. Azura pulang dan disambut dengan penuh kehormatan. Satu per satu rakyat di Indestria mulai pulih, begitupun dengan panet Indestria yang perlahan bangkit menjadi planet yang lebih baik dari sebelumnya.    

Tentang Fida Izzatunnisa

Aku seorang manusia yang tak pernah luput dari dosa. Diberi nama Fida Izzatunnisa. Nama yang biasa saja, namun bagiku sangat bermakna. Aku lahir di bumi pada 29 Mei 2004 di Tasikmalaya. Aku tumbuh dan tetap tinggal di Tasikmalaya, tepatnya Kecamatan Cineam.

Aku putri ke–2 dari umi dan abiku tercinta. Aku punya 2 saudara, tapi aku tetaplah satu–satunya putri dari mereka. Ya, saudaraku laki–laki semua. Di usia yang ke–16 ini, aku menempuh pendidikan di SMA Quranic Science Boardin School, setelah sebelumnya menempuh pendidikan di SMPN 1 Cineam dan SDN 1 Cineam.

Aku suka membaca, menulis, dan tentu saja berimajinasi. Aku punya banyak mimpi, salah satunya membuat dan mempublikasikan buku karyaku. Melalui cerpen ini aku memulai langkahku. Seberapa pantas dan sudah sejauh mana aku melangkah. Hingga dapat mengukur apakah tulisanku sudah bisa disebut karya atau tidak. Terima kasih telah bersedia membaca.

Juara

KOMENTAR

Dr. Jufri Jacib, SE.,,MSi - Selasa, 19 Januari 2021

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Ananda Izza, panggil saja saya abi. Maaf kalau abi kurang sopan menyebutmu ananda Izza. Setiap hari abi membaca skripsi, tesis, bahkan disertasi dari banyak mahasiswa bimbingan abi, bahkan artikel ilmiah milik para dosen yang harus abi preteli satu demi satu agar bisa dipublikasikan di jurnal terakreditasi. Membaca tulisanmu ini, abi yakin Izza masih lebih baik dari para mahasiswa atau dosen-dosen tersebut. Cara bertuturmu dalam tulisan "puisi" ini memastikan kelak kau akan menjadi penulis yang hebat, terkenal, insya Allah, dan juga sholeha. Teruslah belajar ananda Izza. Asa terus kemampuan menulismu. Allah Jaga Allah Sayang padamu. Barokallahu. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Abi Mr. JJ dari Manado Sulawesi Utara.

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT